BMKG Jogja: Waspadai Cuaca Ekstrem

BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat di DI Yogyakarta mewaspadai cuaca ekstrem saat memasuki pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke hujan seperti saat ini. Foto: Antara.

Kamis, 21 November 2019 ― 21.00 WIB
Jogja, joglonews.com ― Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat di DI Yogyakarta mewaspadai cuaca ekstrem saat memasuki pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke hujan seperti saat ini.
"Pada masa pancaroba perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem berupa potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Etik Setyaningrum di Yogyakarta, Kamis (21/11/2019).
Diimbau, masyarakat yang bertempat tinggal di bantaran sungai untuk selalu waspada bila terjadi hujan lebat yang berpotensi banjir dan longsor, khususnya di daerah-daerah yang rawan longsor.
"Bila ada petir untuk menghindari tempat-tempat yang lapang dan terbuka, jangan berteduh di bawah pohon, jangan berkendara motor di jalan dan lebih baik berteduh di bawah bangunan yang kuat," ujarnya.
Pada masa peralihan musim saat ini, pertumbuhan awan akan mulai meningkat. Pembentukan awan tersebut dapat pula menyebabkan rasa gerah di Yogyakarta.
"Dengan adanya awan, maka radiasi panas dari Bumi ke atmosfer dapat tertahan oleh awan tersebut dan menjadikan suhu udara di bumi menjadi panas dalam bentuk gerah," tuturnya.
Secara umum, kondisi terik dan gerah akan hilang ketika wilayah DIY sudah maksimal dalam memasuki musim hujan yang diperkirakan jatuh pada Desember mendatang.
Memasuki pancaroba saat ini, hujan sudah mulai muncul di beberapa wilayah di DI Yogyakarta, meskipun tidak merata dan masih bersifat lokal.
Suatu wilayah dikatakan sudah memasuki musim hujan, bila curah hujan telah mencapai 50 milimeter (mm) lebih dalam satu dasarian (10 hari) dan kondisi itu bertahan dua dasarian berikutnya secara berturut-turut.
Menurut prakiraan BMKG, musim hujan akan datang secara bertahap di wilayah DI Yogyakarta, dimulai dari wilayah Kabupaten Kulonprogo bagian utara dan Sleman bagian barat.
Penulis: Heri Purwanto
Editor: H. J. Ciptosubarjo
Sumber: Antaranews.com

Tidak ada komentar:

Gambar tema oleh chuwy. Diberdayakan oleh Blogger.